Aceh Besar. RU – Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Aceh Raya menyiapkan empat forum masyarakat untuk memperkuat konsolidasi dan dukungan publik terhadap rencana pembentukan daerah otonomi baru (DOB) tersebut.
Empat forum yang akan dibentuk yakni Forum Pemuda Aceh Raya, Forum Mahasiswa Aceh Raya, Forum Perempuan Aceh Raya, dan Gerakan Masyarakat Aceh Raya (GEMA Aceh Raya).
Keempatnya akan menghimpun masyarakat dari tujuh kecamatan yang diproyeksikan menjadi wilayah Aceh Raya.
Inisiator Aceh Raya sekaligus Dewan Pengarah Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Aceh Raya, H. Anwar Ahmad, SE.Ak., mengatakan pembentukan forum merupakan tindak lanjut arahan Bupati Aceh Besar dalam pertemuan dengan panitia di The Pade Hotel, Banda Aceh, 15 September 2026.
“Instruksi Bupati Aceh Besar jelas bahwa perjuangan pemekaran tidak boleh hanya menjadi urusan elite. Semua unsur masyarakat harus terlibat dan bergerak bersama,” kata Anwar Ahmad di Lhoknga, Rabu (07/10/2026).
Menurut Anwar, empat forum tersebut akan memperluas sosialisasi sekaligus memperkuat dukungan masyarakat.
“Forum Pemuda, Forum Mahasiswa, Forum Perempuan dan GEMA Aceh Raya akan menjadi kekuatan masyarakat. GEMA Aceh Raya harus terus bergema dan tidak boleh padam,” ujarnya.
Anwar menyebut Aceh Raya memiliki sejumlah modal untuk menjadi daerah otonom baru, antara lain lahan calon ibu kota sekitar 60 hektare di kawasan Lhoknga yang disebutnya merupakan hibah para Imeum Mukim Lhoknga.
“CDOB lain masih mencari lahan ibu kota. Aceh Raya Alhsmdulillah sudah memiliki lahan sekitar 60 hektare Tanoh Reuleut, di kawasan Lhoknga. Ini menjadi salah satu modal kesiapan kami”, katanya.
Selain lahan, Anwar memperkirakan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Raya mencapai sekitar Rp170 miliar yang bersumber dari sektor industri, perdagangan, pariwisata, perikanan, pertanian, dan sektor ekonomi lainnya.
Tujuh kecamatan calon wilayah Aceh Raya memiliki karakter ekonomi berbeda.
Lhoknga diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan, industri, pertambangan, dan pariwisata; Peukan Bada dengan wisata bahari dan perikanan; Darul Imarah sebagai kawasan perdagangan, pusat perbelanjaan, dan permukiman; serta Darul Kamal dengan potensi pertanian dan agrokultur.
Sementara Pulo Aceh memiliki potensi kelautan dan wisata kepulauan, Lhoong dengan pertanian dan kawasan pesisir, serta Leupung dengan sektor perikanan dan ekowisata.
“Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Aceh Raya. Karena itu, kita harus bersatu dan yakin bahwa Aceh Raya mampu berdiri sebagai daerah otonom baru,” ujar Anwar yang juga Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Besar.
Empat forum tersebut akan memiliki fokus berbeda. Forum Pemuda diarahkan menjadi motor sosialisasi, penggalangan dukungan, kegiatan sosial, aksi damai, dan kampanye publik.
Forum Mahasiswa akan menghimpun mahasiswa asal tujuh kecamatan dan menjadi jaringan komunikasi serta advokasi hingga tingkat nasional.
Forum Perempuan akan melibatkan organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas perempuan.
Menurut Anwar, kelompok perempuan penting dilibatkan karena turut merasakan dampak keterbatasan akses pelayanan pemerintahan.
“Perempuan harus menjadi bagian penting dalam perjuangan ini. Mereka juga merasakan langsung bagaimana jauhnya akses pelayanan administrasi dan pemerintahan dari sejumlah wilayah,” katanya.
Adapun GEMA Aceh Raya akan menjadi wadah bersama bagi tokoh adat, ulama, Imeum Mukim, keuchik, pemuda, perempuan, pengusaha, pelaku wisata, nelayan, petani, lembaga swadaya masyarakat, dan media.
Forum ini juga akan memperkuat konsolidasi dari tingkat mukim hingga gampong.
“Suara masyarakat harus dibangun dari bawah. Dari meunasah ke meunasah, gampong ke gampong, hingga akhirnya suara Aceh Raya terdengar sampai ke tingkat nasional,” ujar Anwar.
Panitia menargetkan pembentukan dan deklarasi empat forum berlangsung pada Oktober 2026 di Lhoknga.
Agenda tersebut akan dilanjutkan dengan konsolidasi masyarakat dan peninjauan lahan hibah sekitar 60 hektare di kawasan Ga Reuleut yang diproyeksikan sebagai lokasi calon ibu kota Aceh Raya.
Anwar mengatakan konsolidasi tersebut diperlukan untuk memastikan dukungan masyarakat terhadap pembentukan Aceh Raya semakin kuat.
“Dulu gagasan Aceh Raya hanya dibicarakan di warung kopi. Sekarang sudah ada panitia berdasarkan SK Bupati, ada lahan yang disiapkan dan berkas telah diproses. Tahap berikutnya adalah memastikan dukungan masyarakat benar-benar kuat,” katanya.
Panitia berharap konsolidasi empat forum dapat menunjukkan kesiapan Aceh Raya, baik dari sisi administratif, dukungan masyarakat maupun potensi ekonomi.
“Kalau empat forum ini bergerak bersama, Aceh Raya bukan hanya siap di atas kertas, tetapi juga siap di lapangan,” pungkas Anwar.(*)













