Kasus DBD di Abdya Capai 100 Pasien, Tertinggi pada Agustus

Direktur RSUD-TP Abdya, dr Ismail Muhammad. Senin 28 September 2026 [Dok. rahasiaumum.com/T08]

Blangpidie. RU – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

RSUD-TP Teungku Peukan mencatat 100 pasien DBD menjalani perawatan sejak Juni hingga September 2026.

Direktur RSUD-TP Abdya, dr Ismail Muhammad, mengatakan jumlah pasien yang dirawat terdiri dari 10 orang pada Juni, 28 orang pada Juli, 36 orang pada Agustus, dan 26 orang pada September.

“Pasien DBD yang masuk dan di rawat, selain berasal dari Kabupaten Abdya, juga beberapa pasien berasal dari Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Selatan,” kata Ismail Muhammad, Senin (28/09/2026).

Menurut dia, mayoritas pasien berhasil mendapatkan perawatan hingga pulih.

Namun, sejumlah pasien harus dirujuk ke Banda Aceh karena membutuhkan penanganan intensif.

“Mayoritas pasien DBD yang masuk berhasil diobati. Namun, beberapa pasien juga sudah kita rujuk ke Banda Aceh untuk menjalani perawatan intensif,” ujarnya.

Ismuha menjelaskan, DBD disebabkan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi mendadak hingga 40 derajat Celsius selama 2–7 hari, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot, tulang dan sendi, mual, muntah, hilang nafsu makan, serta ruam kemerahan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap penurunan demam sebagai tanda pasti pasien telah sembuh.

“Perlu diwaspadai, penurunan demam pada hari ke-3 sampai ke-7 tidak selalu berarti sembuh, melainkan bisa menjadi fase kritis akibat kebocoran pembuluh darah,” ucap Ismuha.

Pencegahan DBD

Untuk menekan penyebaran DBD, RSUD-TP Abdya bersama Dinas Kesehatan melakukan penyuluhan kebersihan lingkungan dan fogging di sejumlah lokasi.

“Pada dasarnya, fogging itu perlu, apalagi penyuluhan menjaga kebersihan, tapi yang lebih penting adalah kesadaran kita untuk menjaga kebersihan lingkungan dari sampah, terutama sampah plastik,” ujar Ismuha.

Menurutnya, sampah plastik yang menampung air dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, termasuk botol bekas minuman, kaleng, hingga tempurung kelapa.

“Sebab, sampah plastik terutama botol bekas minuman yang masih berisikan air menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk jenis Aedes Aegypti yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah,” tambahnya.

“Nyamuk-nyamuk ini sangat mudah berkembang biak di sampah-sampah plastik yang berisikan air, baik di botol bekas air mineral, kaleng, bahkan di tempurung kelapa,” lanjutnya.

Karena itu, Ismail mengimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, terutama menjelang dan selama musim hujan.

“Kita meminta masyarakat jangan membuang sampah sembarangan karena saat turun hujan, sampah-sampah yang terbuka itu bisa dimasuki air,” pesan Ismail Muhammad.(T08)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...