Sigli. RU – Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Pidie menyebutkan realisasi program optimalisasi lahan terdampak bencana hidrometeorologi akhir November 2025 di kabupaten itu mencapai 90 persen.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Distanpan Kabupaten Pidie Iskandariah mengatakan, program optimalisasi lahan tersebut merupakan bantuan Kementerian Pertanian terhadap lahan persawahan terdampak bencana.
“Ada seluas 287 hektare areal persawahan terdampak bencana banjir yang masuk program optimalisasi dari Kementerian Pertanian. Dari 287 hektare sawah tersebut, realisasinya mencapai 90 persen,” katanya, Sabtu (12/09/2026).
Ia menyebutkan ada ratusan hektare sawah masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi akhir November 2025.
Ratusan hektare sawah tersebut terdiri 287 hektare rusak ringan, 120 hektare rusak sedang, dan 95 hektare rusak berat.
Seluas 287 hektare sawah rusak ringan tersebut, masuk program optimalisasi. Program optimalisasi juga meliputi rehabilitasi jaringan irigasi yang kerusakan ringan akibat bencana hidrometeorologi.
“Bantuan optimalisasi lahan pertanian tersebut diberikan langsung kepada kelompok tani. Lahan yang dioptimalisasi kelompok tani tersebut masing-masing berkisar 10 hingga 20 hektare,” katanya.
Terkait pemulihan areal persawahan rusak berat akibat bencana, ia menyebutkan luarnya mencapai 95 hektare tersebar di beberapa titik di Kabupaten Pidie.
“Sawah rusak berat tersebut di antaranya 20 hektare di Blang Pandak, Kecamatan Tangse dan 11 hektare di Tiro. Saat ini, dua titik sawah rusak berat tersebut ditangani Satgas PRR dan sekarang sudah ada alat berat yang menanganinya,” katanya.
Secara umum, kata dia, pemulihan sawah terdampak bencana sudah berjalan dengan baik. Areal persawahan di beberapa titik sudah ditanami dan ada yang sudah panen dengan hasil cukup baik.
“Kami juga mendorong petani yang sawahnya rusak ringan menangani sendiri, sehingga pemulihan sektor pertanian pascabencana di Kabupaten Pidie dapat dipercepat,” kata Iskandariah.(TH05)













