Perangkat Deteksi Gempa Milik BMKG di Gayo Lues Hilang Dicuri

Alat deteksi gempa
Perangkat deteksi gempa milik BMKG di Gayo Lues rusak setelah beberapa komponennya hilang dicuri. [Foto: BMKG/Rahasiaumum.com]

Blangkejeren. RU – Aksi pencurian dan perusakan peralatan pemantau gempa milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Kabupaten Gayo Lues melumpuhkan operasional salah satu stasiun pemantau seismik.

Selain kabel instalasi, pelaku juga membawa kabur sejumlah perangkat utama pendeteksi gempa yang mengakibatkan terganggunya pemantauan aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan, Sugeng Prayitno, mengatakan aksi pencurian terjadi di Shelter Site BGASI yang berada di Desa Gantung Geluni, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues.

“Akibat kejadian ini, kemampuan BMKG dalam memantau aktivitas gempa serta menyampaikan informasi kebencanaan dan peringatan dini kepada masyarakat mengalami penurunan,” kata Sugeng dikutip Sabtu (08/08/2026).

Gangguan operasional pertama kali diketahui setelah transmisi data seismik dari lokasi tersebut terputus total sejak 29 Juli 2026. BMKG kemudian mengirim tim ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan pada 3 Agustus 2026.

Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan pintu shelter telah dirusak, gembok hilang, dan kabel instalasi dipotong.

Sejumlah peralatan utama juga raib, di antaranya satu unit digitizer Quanterra Q8, satu unit modem VSAT iDirect iQ Desktop+, dua baterai berkapasitas 9 Ah, satu set kabel panel surya, serta seluruh kabel instalasi di dalam shelter.

Akibatnya, transmisi data seismik dari lokasi tersebut terhenti dan operasional stasiun pemantauan lumpuh.

Sugeng menegaskan dampak pencurian itu tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga mengurangi kemampuan sistem pemantauan gempa di kawasan yang berada di jalur aktif Sesar Sumatera Segmen Tripa.

Menurutnya, segmen sesar tersebut memiliki aktivitas kegempaan tinggi dan berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7,4. Wilayah Gayo Lues sendiri beberapa kali mengalami gempa yang menimbulkan kerusakan, termasuk gempa bermagnitudo 5,6 pada 22 Juli 2026 yang merusak sejumlah fasilitas umum, termasuk sebuah puskesmas.

“Dalam kondisi kerawanan yang tinggi seperti ini, keberadaan stasiun pemantau gempa sangat krusial. Lumpuhnya Site BGASI mengurangi kemampuan jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat. Keterlambatan informasi tentu dapat membahayakan keselamatan masyarakat,” ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat ikut menjaga fasilitas pemantauan bencana karena keberadaan alat tersebut merupakan bagian penting dari sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang berperan dalam melindungi keselamatan masyarakat.(TH05)

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...