Aceh Besar. RU – Ancaman kekeringan mulai dirasakan petani di Kabupaten Aceh Besar seiring kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Ribuan hektare lahan persawahan dilaporkan terdampak akibat berkurangnya pasokan air, sementara masyarakat meminta langkah antisipasi pemerintah diperkuat.
Salah seorang masyarakat petani di Indrapuri, yang Namanya tidak ingin disebut mengatakan kondisi kemarau bukan persoalan baru sehingga diperlukan mitigasi yang lebih terencana untuk melindungi sektor pertanian.
“Setiap tahun kita menghadapi kemarau dan sering ada peringatan terkait El Nino. Karena itu, kami berharap upaya antisipasi dapat dipersiapkan lebih matang agar petani tidak terus menjadi pihak yang paling terdampak,” ujarnya kepada rahasiaumum.com, Senin (27/07/2026).
Menurut dia, petani membutuhkan solusi konkret, terutama untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
“Kami berharap ada langkah nyata. Jika pasokan air melalui irigasi terganggu, sebaiknya sudah disiapkan alternatif sejak awal sehingga aktivitas pertanian tetap bisa berjalan,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi jaringan irigasi di wilayah hilir yang bergantung pada aliran sungai.
Penurunan debit air menyebabkan distribusi ke lahan pertanian tidak berjalan optimal.
“Debit sungai menurun sehingga air irigasi tidak sampai ke sawah. Kondisi ini sudah beberapa kali terjadi sehingga diharapkan ada evaluasi dan langkah perbaikan yang lebih efektif,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh muda Aceh Besar, Sirathallah, mengatakan dampak kemarau kini tidak hanya mengganggu sektor pertanian, tetapi juga mulai berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.(*)













