Blangpidie. RU – Ketergantungan distribusi pupuk subsidi pada sistem digital mulai menuai keluhan dari petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Gangguan jaringan yang kerap terjadi membuat proses penebusan pupuk terhambat meski stok tersedia di distributor.
Akibatnya, petani harus menunggu berjam-jam, bahkan berdesakan saat sistem kembali normal karena seluruh penerima datang dalam waktu bersamaan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Saat kami tahu pupuk sudah datang, kami langsung ke distributor untuk membeli. Tetapi pupuk tidak bisa keluar karena sistem tidak bisa terakses. Begitu jaringan kembali normal, semua petani datang bersamaan sehingga terjadi kerumunan,” kata Ivandi Akmal, petani di Kecamatan Blangpidie, kepada rahasiaumum.com, Minggu (14/06/2026).
Menurut Ivandi, persoalan utama bukan pada ketersediaan pupuk, melainkan akses terhadap sistem pendataan dan verifikasi penerima yang tidak dapat digunakan saat jaringan bermasalah.
Kondisi tersebut menyebabkan proses penyaluran terhenti hingga sistem kembali normal.
Ia menambahkan, gangguan tersebut membuat petani harus meninggalkan pekerjaan di sawah dan menunggu lama di lokasi distributor.
Ketika akses sistem kembali pulih, tingginya jumlah petani yang datang secara bersamaan sering membuat stok pupuk cepat habis.
Akibatnya, sebagian petani terpaksa pulang tanpa membawa pupuk yang dibutuhkan untuk kegiatan pertanian mereka.
Petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera menghadirkan solusi agar distribusi pupuk subsidi tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan jaringan internet.
Mereka juga meminta adanya mekanisme alternatif yang dapat digunakan saat sistem digital mengalami gangguan.
“Kami petani berharap perbaikan segera agar kebutuhan pupuk dapat terpenuhi tepat waktu dan aktivitas pertanian tidak terganggu,” pungkas Ivandi.(T018)














