Subulussalam. RU – Potensi wisata alam di sepanjang alur Sungai (Lae) Penuntungan, Kampong Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, dinilai menjanjikan untuk dikembangkan. Namun, upaya pembenahan dan pengembangan kawasan wisata tersebut masih terkendala keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan anggaran yang tidak sedikit.
Kampong Penuntungan yang memiliki luas sekitar 7,85 kilometer persegi atau 785 hektare selama ini dikenal melalui Destinasi Wisata Air Terjun Penuntungan atau Air Terjun SKPC yang berada di kawasan hutan dan perkebunan warga. Selain air terjun tersebut, sejumlah titik di sepanjang alur Lae Penuntungan juga dinilai memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan.
Kepala Kampong Penuntungan, Samsul Berutu, bersama Ketua Badan Permusyawaratan Gampong (BPG) Sudarmono, dan rahasiaumum.com, meninjau dua lokasi wisata alam di kawasan tersebut pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Lokasi pertama adalah kawasan yang dikenal masyarakat dengan nama Namo Sampuren, yang juga menjadi salah satu dari enam dusun di Kampong Penuntungan.
Di lokasi itu telah berdiri beberapa pondok dan warung sederhana milik warga, meski kondisinya masih terlihat belum tertata dengan baik.
Selain itu, terdapat sebuah bangunan kecil bantuan pemerintah daerah yang dibangun sekitar dua hingga tiga tahun lalu dan berfungsi sebagai tempat menikmati panorama sungai.
“Bantuan pemerintah daerah, sekitar dua atau tiga tahun lalu, masa desa ini dipimpin Pj. Kepala Kampong,” kata Samsul, seperti diberitakan rahasiaumum.com, Minggu (14/06/2026).
Menurut Samsul dan Sudarmono, persoalan utama yang harus segera dibenahi adalah akses menuju lokasi wisata.
Jalan menuju kawasan tersebut dinilai belum memadai untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
“Jalan ini perlu menjadi prioritas ditata lebih baik agar kendaraan nyaman masuk,” ujar Samsul.
Sementara itu, lokasi kedua berada di dusun yang sama dengan nama Pemandian Rajawali Tapa.
Kawasan wisata yang dikelola Mustafa tersebut memiliki luas hampir delapan hektare dan dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan.
Mustafa mengatakan, akses jalan menuju lokasi sempat mendapat bantuan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 120 meter dengan lebar 3,5 meter melalui Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahun 2023.
“Lumayan sedikit terbantu, tapi pembenahan dan polesan ke depan jauh lebih banyak memerlukan biaya,” ujar Mustafa yang juga mantan kepala desa setempat.
Meski demikian, akses menuju kawasan itu masih memerlukan penataan lanjutan, baik dari sisi panjang maupun pelebaran jalan agar mampu mendukung peningkatan kunjungan wisatawan.
Menurut Mustafa, pengembangan potensi wisata alam Lae Penuntungan membutuhkan dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah, termasuk penataan kawasan dan pengamanan lokasi wisata.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah area air terjun yang aliran airnya langsung jatuh ke Sungai Lae Penuntungan.
Kawasan tersebut dinilai belum optimal menarik pengunjung karena diapit tebing cukup tinggi di sisi kiri dan kanan sungai.
“Tebing ini agaknya perlu dirawat, dipasang pengaman seperti diikat kawat agar lebih terjamin aman,” kata Samsul.
Ia menjelaskan, upaya penataan tepi sungai sebenarnya telah dilakukan secara swadaya oleh pengelola melalui pembangunan talut. Namun, beberapa bagian sempat rusak akibat terjangan banjir saat debit sungai meningkat.
Samsul dan Sudarmono meyakini penataan kawasan wisata alam di Kampong Penuntungan akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus mendorong kemajuan desa.
Terkait kebutuhan anggaran, salah satu harapan muncul melalui kegiatan Reses II Masa Sidang II Tahun 2026 yang dilaksanakan Anggota DPRK Subulussalam, Ardhiyanto Ujung, di Kampong Penuntungan pada 6 Juni lalu.
Dalam pertemuan yang dihadiri unsur kecamatan, kepolisian, mukim, pemerintah kampung, Tim GTRA, dan masyarakat setempat itu, politisi Partai Aceh tersebut menjanjikan alokasi anggaran sebesar Rp200 juta untuk mendukung program pembangunan prioritas masyarakat.
“Ada beberapa usulan, seperti peningkatan infrastruktur jalan desa dan pengembangan sektor pariwisata yang belum dikelola optimal,” kata Samsul.
Meski demikian, penggunaan anggaran tersebut masih akan dibahas melalui musyawarah bersama masyarakat guna menentukan skala prioritas pembangunan yang akan dilaksanakan.(MB017)














