Anjing Liar Mengamuk di Silih Nara, Delapan Warga Jadi Korban

Ilustrasi. Selasa 9 Juni 2026 [Dok. rahasiaumum.com/*]

Aceh Tengah. RU – Warga Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, dilanda keresahan setelah seekor anjing liar yang diduga terinfeksi rabies menyerang delapan warga di tiga kampung, yakni Arul Gele, Remesen, dan Burni Bius.

Insiden yang terjadi sejak malam hingga pagi hari itu menyebabkan para korban mengalami luka dengan tingkat keparahan beragam pada bagian lengan dan kaki akibat gigitan hewan tersebut.

Sekretaris Kampung Arul Gele, Ridwan, mengatakan serangan terjadi dalam dua kejadian.

Korban pertama, Yuswandi, digigit pada malam hari dan segera menginformasikan kejadian itu kepada warga melalui grup WhatsApp agar meningkatkan kewaspadaan.

“Semalam begitu kejadian, kami bersama warga langsung bergerak menyisir dan menelusuri keberadaan anjing tersebut. Namun, karena kondisi gelap dan lokasi yang luas, hingga larut malam kami sempat kehilangan jejak,” kata Ridwan saat dikonfirmasi rahasiaumum.com, Selasa (09/06/2026).

Pencarian dilanjutkan keesokan paginya.

Namun sebelum berhasil diamankan, anjing tersebut kembali muncul dan menyerang warga lainnya.

“Saat masyarakat mulai berkerumun untuk mengepung dan melumpuhkannya, anjing yang dalam kondisi sangat agresif itu justru mengamuk membabi buta. Hewan itu malah berbalik menyerang dan melukai beberapa warga lain yang berada di lokasi,” ujarnya.

Untuk mencegah jatuhnya korban tambahan, warga bersama aparatur kampung melakukan penyisiran dan melumpuhkan tiga ekor anjing, termasuk anjing yang diduga menjadi pelaku utama penyerangan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Mudarmawati, memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Silih Nara dan RSUD Datu Beru.

“Kami sudah melakukan penanganan cepat sesuai prosedur tetap kasus gigitan hewan penular rabies. Semua korban terlebih dahulu dibersihkan lukanya secara intensif dan langsung kami berikan suntikan Vaksin Anti-Rabies,” katanya.

Menurut Mudarmawati, rabies merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena hampir selalu berakibat fatal jika gejala klinis telah muncul.

“Rabies merupakan penyakit mematikan yang belum ada obatnya jika gejala klinis sudah telanjur muncul pada manusia. Oleh karena itu, penanganan golden period pada luka gigitan tidak boleh ditunda,” ujarnya.

Ia menyebutkan kondisi delapan korban saat ini stabil dan menjalani rawat jalan dengan pemantauan berkala dari tenaga kesehatan.

Dinas Kesehatan Aceh Tengah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, mengandangkan hewan peliharaan sementara waktu, serta segera mencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 10 hingga 15 menit jika mengalami gigitan hewan penular rabies sebelum mendapatkan penanganan medis.(*)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...