APJI: Industri Jasaboga Tumbuh Pesat, Dorong UMKM Kuliner Naik Kelas hingga Go Internasional

Ketua Umum DPP APJI, Tasyha Megananda Yukki saat wawancara khusus bersama wartawan media rahasiaumum.com. Sabtu 16 Mei 2026. [Dok. rahasiaumum.com/IA03]

Aceh Besar. RU – Pertumbuhan industri jasa boga di Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

Meningkatnya perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai ikut mendorong sektor kuliner dan katering berkembang lebih cepat sekaligus membuka peluang usaha baru di berbagai daerah.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI), Tasyha Megananda Yukki, mengatakan industri jasa boga kini menjadi sektor yang semakin strategis karena berkaitan langsung dengan keamanan pangan dan kualitas layanan makanan.

“Jasa boga ini sudah menjadi bidang yang sangat krusial, terutama terkait program pemerintah mengenai ketahanan pangan dan keamanan pangan,” kata Tashya dalam wawancara khusus usai pengukuhan pengurus DPD APJI Aceh dan Rakerda APJI Aceh di The Pade Hotel Aceh, Sabtu (16/05/2026).

Menurut dia, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya food safety turut mengubah cara pandang terhadap industri jasa boga.

Pelaku usaha kini tidak hanya dituntut menyajikan makanan yang lezat, tetapi juga memastikan kebersihan, mutu layanan, dan standar keamanan pangan tetap terjaga.

“Dunia jasa boga ini bukan hanya memberikan makanan yang enak saja, tetapi service yang baik dan mutu keamanan pangannya juga terjaga,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut membuat sektor jasa boga semakin diminati, termasuk oleh pelaku usaha dari bidang lain seperti konstruksi dan industri hiburan.

“Dengan adanya program makan bergizi gratis ini, dunia jasa boga sedang naik daun,” katanya.

Tashya menjelaskan, APJI terus menyesuaikan program organisasi dengan kebijakan pemerintah, khususnya dalam mendukung MBG dan penguatan ketahanan pangan nasional.

Fokus utama organisasi, kata dia, ialah menciptakan pengusaha jasa boga yang kompeten dan profesional melalui berbagai pelatihan peningkatan sumber daya manusia.

“Pengusaha mikro kami dorong naik menjadi kecil, lalu berkembang ke menengah hingga besar,” ujarnya.

Selain pelatihan, APJI juga membina pelaku UMKM kuliner melalui akses pemasaran dan promosi.

Salah satu program yang dikembangkan ialah “APJI Mart”, wadah pemasaran produk anggota APJI dari berbagai daerah di Indonesia.

“Bukan hanya kami bina, tetapi kami juga membukakan market untuk mereka,” ucapnya.

Menurut dia, produk UMKM yang dinilai potensial akan mendapat pendampingan desain dan pengemasan agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

“Kami bantu desain dan packaging secara gratis, tetapi mereka juga harus serius mengembangkan produknya,” katanya.

Tashya menambahkan, APJI juga memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Jasaboga Nusantara yang bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Melalui lembaga tersebut, APJI memberikan sertifikasi bagi tenaga kerja di bidang jasa boga, mulai dari penjamah makanan hingga manajemen katering.

“Pelatihan yang kami berikan semuanya inline dan ada kerja sama sertifikasi dengan BNSP,” ujarnya.

Dalam mendukung program MBG, APJI juga dipercaya bekerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia untuk memberikan pelatihan manajerial kepada 32.000 Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Materi pelatihan mencakup keamanan pangan, higiene dan sanitasi, pemilihan bahan baku, hingga pencegahan kontaminasi silang dalam pengelolaan dapur MBG.

“SPPI ini sekarang menjadi pimpinan dapur di dapur-dapur MBG,” kata Tashya.

Saat ditanya mengenai kuliner Aceh, Tashya mengaku terkesan dengan cita rasa makanan khas daerah tersebut.

Ia menilai kuliner Aceh memiliki kekuatan pada rempah dan karakter rasa yang berbeda dibanding daerah lain.

“Semua makanannya enak-enak sekali. Dari spices dan ingredients-nya semuanya khas,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai produk kuliner Aceh masih membutuhkan penguatan dari sisi pengemasan agar lebih mudah diterima pasar luar daerah maupun internasional.

“Jangan sampai hanya dikenal di kotanya sendiri saja. Bagaimana caranya makanan khas ini bisa dikenal di daerah lain maupun internasional,” katanya.

Tashya berharap pengurus DPD APJI Aceh dapat membangun organisasi yang solid dan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, asosiasi, serta pelaku usaha lain di sektor jasa boga.

“Collaboration is better than competition. Jadi, banyak-banyaklah bersinergi dan berkolaborasi,” ujarnya.(IA03)

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...

Rasa Haru di Balik Amanah: Jejak Pengabdian Khalidin Umar Barat di Tanah Suci

Subulussalam. RU – Ada momen yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika nama Khalidin...

Dari Subulussalam ke Makkah, Kiprah Khalidin Melayani Jemaah

Makkah. RU – Suatu anugerah besar kembali diraih Khalidin Umar Barat salah satu putra terbaik...