Analis: Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Trump vs Mojtaba
Kolase foto Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. (Foto: RMOL)

Moskow. RU – Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran dalam hampir dua pekan terakhir dinilai berkembang jauh lebih kompleks dari perkiraan awal Washington. 

Dalam ulasannya di media Rusia RT, analis geopolitik Farhad Ibragimov menilai strategi Amerika sejak awal didasarkan pada asumsi yang terlalu optimistis mengenai keruntuhan cepat sistem politik Iran.

Menurutnya, Washington semula memperkirakan serangan militer besar akan segera melemahkan Iran dan bahkan memicu runtuhnya pemerintahan hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik.

Asumsinya, pukulan telak terhadap kepemimpinan negara akan memicu efek domino berupa kekacauan di kalangan elite politik, lumpuhnya institusi negara, dan runtuhnya struktur pemerintahan.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Meski berada di bawah tekanan militer besar, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik.

Lembaga pemerintahan tetap berfungsi, proses pengambilan keputusan berjalan, dan struktur negara tetap terkendali meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terbunuh pada hari pertama perang.

Sebagai bagian dari mekanisme politik negara tersebut, Majelis Pakar Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru.

Penunjukan ini menunjukkan bahwa sistem politik Iran memiliki struktur kelembagaan yang mampu menjaga kesinambungan kekuasaan bahkan dalam situasi krisis besar.

Ibragimov menilai ketahanan itu tidak terlepas dari pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal, mulai dari Perang Iran-Irak hingga puluhan tahun sanksi internasional sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Model negara yang menggabungkan legitimasi religius, aparat keamanan kuat, serta struktur pemerintahan yang fleksibel dinilai memungkinkan Iran bertahan dalam tekanan ekstrem.

Di sisi lain, ia juga menyoroti inkonsistensi pernyataan pemerintah Donald Trump terkait tujuan perang.

Awalnya Washington menyebut targetnya adalah perubahan rezim di Iran, namun kemudian narasi tersebut bergeser menjadi demiliterisasi Iran dan pembatasan kemampuan militernya.

Ibragimov menilai perubahan retorika ini memperlihatkan ketidakjelasan strategi.

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulis Ibragimov.

Menurutnya, perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik tersebut bukan hanya perang militer, tetapi juga ujian terhadap stabilitas politik Iran.(TH05/RMOL)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...