Ratoeh, Kesenian Tradisi Aceh yang Lahir 5 Abad Lalu

RatohDuek
Tari Ratoh Duek saat dibawakan anak sekolah di Sydney, Australia, 16 Juli 2019. (Foto: abc.net.au)

Banda Aceh. RU – Kesenian Ratoeh banyak menarik wisatawan ke Aceh karena pernah dipentaskan dalam bentuk tarian massal di pembukaan Asean Games 2018 di Jakarta. 

Seni tradisi Aceh ini biasa dibawakan dalam ritme cepat sehingga menjadi sarana untuk membakar semangat kebersamaan dan harmoni antara syair dengan tepukan berirama penuh kekompakan.

Tak heran, kesenian ini diminati sebagai hiburan rakyat dan berkembang menjadi tarian khas yang dimainkan lintas generasi.

Bahkan saat ini, kesenian tradisi Aceh tersebut kerap ditampilkan secara massal, sehingga sering mengisi even besar dan dikompetisikan hingga tingkat nasional, sepanjang tahun 2010-2025.

Uniknya, asal usul seni tari ini ternyata berakar dari kesenian abad ke-16, yang dibawa seniman India dan dikembangkan ulama Arab para era 1521-1662 Masehi untuk dijadikan media dakwah, dimana Aceh saat itu menjadi kota pelabuhan persinggahan favorit kapal internasional yang melintasi jalur laut Selat Malaka.

Karena kesenian tari semakin banyak dipentaskan dalam perayaan hari besar di Aceh, Kesenian Ratoeh ditambahi kata Duek (posisi duduk) untuk membedakan jenis dan formasi tarian.

Karena tari tradisi di Aceh sendiri pada dasarnya dibedakan menjadi jenis tari duduk (duek/meusaman) dan tari berdiri (doeng).

Kesenian Ratoeh yang kemudian disebut Tari Ratoh Duek ini, kembali populer di kalangan siswa tingkat SMP dan SMA secara nasional di tahun 2000-an, yang menyemarakkan era lahirnya generasi millenial abad 21.

Melampaui 500 tahun, kesenian Ratoeh yang diketahui lahir pada abad ke-16 untuk tujuan dakwah Islam itu ternyata menjadi kesenian/tarian yang dimainkan lintasgenerasi, hingga awal millenium ketiga (abad 21 dalam kalender Masehi).

Seni tari ini bahkan dimainkan untuk memotivasi semangat kebersamaan dalam mengejar keunggulan (spiritual dan lahiriyah) oleh generasi di zamannya masing-masing.

Di beberapa sekolah menengah atas hingga universitas di luar Aceh, juga banyak yang menjadikan kesenian Ratoeh atau Ratoh Duek ini sebagai cabang ilmu seni tari yang diminati.

Di kancah internasional pun, tarian ini sering dipentaskan sebagai salah satu media diplomasi melalui tukar budaya.

Hingga tahun 2025, kesenian Ratoeh dari Aceh ini telah menginspirasi lahir dan berkembangnya kesenian sejenis (tari duduk) seperti Ratoh Duek, dan Ratoh Jaroe yang banyak memainkan formasi gerakan tangan.

Bahkan dalam perkembangannya saat ini, Tari Ratoh sudah banyak mengalami pengayaan gerakan dan pola lantai yang memadukan seni gerak tubuh dengan irama rapa’i.(TH05)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...