Ketua DPRK hingga Jurnalis Ikuti Ujian Amatir Radio di Aceh Tamiang

Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlon sedang terfokus mengikuti ujian UNAR (ORARI). Sabtu 17 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/S04]

Kualasimpang. RU – Pengalaman menghadapi banjir hidrometeorologi pada akhir 2025 mendorong berbagai kalangan di Aceh Tamiang mengikuti Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) nonreguler wilayah Aceh 2026.

Sebanyak 116 peserta mengikuti ujian tersebut, termasuk Ketua DPRK Aceh Tamiang Fadlon, sejumlah pejabat eselon II, aparatur sipil negara (ASN), mantan pejabat tinggi daerah, jurnalis, hingga datok penghulu atau kepala desa.

Ujian yang digelar di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (17/10/2026), itu merupakan tahapan untuk menjadi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

Panitia penyelenggara UNAR bidang pendanaan, Saiful Alam, mengapresiasi keterlibatan pejabat dan tokoh masyarakat dalam kegiatan tersebut.

“Keikut sertaan pejabat dan tokoh penting masyarakat serta sejumlah Datok Penghulu Kampung (Kepala Desa) dalam ujian UNAR ini perlu kita apresiasi bersama,” ujar Saiful.

Menurut dia, jumlah peserta yang mencapai 116 orang tergolong besar.

Peserta berasal dari beragam unsur masyarakat, termasuk kalangan pejabat dan jurnalistik.

“Keantusiasan peserta dari berbagai kalangan ini patut kita apresiasi. Sebab mereka semua adalah korban dari bencana banjir hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025 yang tentunya paham betul tentang penderitaan korban bencana,” ujarnya.

Saiful mengatakan, pengalaman banjir besar tersebut memperlihatkan pentingnya sarana komunikasi radio ketika jaringan komunikasi konvensional terputus.

Saat bencana melanda Aceh Tamiang, akses jalan, komunikasi, dan pasokan listrik terputus sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan bantuan.

“Seluruh akses hubungan dan penerangan listrik di Daerah ini terputus total, baik itu akses jalan maupun komunikasi tidak ada samasekali, sementara seluruh rakyat merasakan kelaparan yang luar biasa. Hingga beberapa hari tidak ada pasokan bantuan makanan, obat-obatan dari manapun, dikarenakan bencana yang maha dahsyat belum diketahui oleh daerah luar Aceh Tamiang, itu hanya gara-gara tidak adanya informasi yang keluar,’” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi radio amatir memiliki peran penting dalam situasi darurat, terutama untuk menyampaikan informasi dari wilayah terdampak kepada pihak luar ketika jaringan komunikasi lainnya tidak berfungsi.(S04)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...