Banjir Rendam 75 Hektar Lahan di Aceh Tenggara, 1.387 Jiwa Terdampak

Alat berat dikerahkan untuk menutup tanggul, mengeruk material, dan menormalisasi aliran sungai usai tergerus banjir. Senin 12 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/AFW11]

Kutacane. RU – Banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, berdampak pada 350 keluarga atau 1.387 jiwa.

Bencana tersebut juga merendam sekitar 75 hektar lahan pertanian dan tanaman jagung, mengganggu akses jalan nasional, serta merusak fasilitas penyediaan air bersih.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Aceh Tenggara, bencana dipicu hujan berintensitas tinggi sejak Jumat, 9 Oktober 2026.

Banjir dan longsor tersebut melanda sembilan desa di empat kecamatan, yakni Ketambe, Lawe Bulan, Babussalam, dan Bambel.

Dampak banjir paling nyata terjadi di Kecamatan Bambel. Sekitar 75 hektar lahan pertanian dan tanaman jagung milik warga terendam.

Banjir juga menggenangi jalan nasional Kutacane-Medan di ruas Desa Bambel Gabungan hingga Terutung Megara Asli dengan ketinggian air 30–50 sentimeter.

Di Desa Terutung Seperai, akses jalan nasional turut terganggu akibat pemblokiran jalan oleh warga di tengah dampak banjir.

Kondisi itu menyebabkan kemacetan panjang.

Sementara itu, tanah longsor di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, menutup badan jalan nasional Kutacane-Blangkejeren dengan material tanah dan lumpur.

Akibatnya, arus lalu lintas dari kedua arah terhambat.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Aceh Tenggara Mohd Asbi menjelaskan dalam laporan tertulis bahwa hujan berdurasi panjang dengan intensitas tinggi meningkatkan debit sungai hingga menyebabkan tanggul jebol dan air meluap ke permukiman warga.

“Banjir juga menyebabkan intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara hanyut tergerus arus. Gudang logistik BPBD dan fasilitas SMPIT Al Khansa turut tergenang,” kata Hasbi dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).

Kerusakan tanggul dilaporkan terjadi di Desa Pulonas Baru, Kecamatan Lawe Bulan, serta Desa Lawe Kihing, Kecamatan Bambel.

Di Lawe Kihing, tanggul penahan tebing Sungai Lawe Bulan atau Lawe Kisam jebol sepanjang sekitar 50 meter.

Untuk menangani dampak bencana, BPBD mengerahkan tiga unit alat berat, terdiri dari dua unit milik BPBD dan satu unit dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I.

Alat berat tersebut digunakan untuk menutup tanggul, mengeruk material, dan menormalisasi aliran sungai.

Namun, upaya perbaikan tanggul terkendala hujan yang kembali mengguyur wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan BPBD, tanggul Sungai Lawe Bulan atau Lawe Kisam yang sebelumnya telah ditutup kembali jebol pada Sabtu, 10 Oktober 2026 sekitar pukul 23.00 WIB.

Petugas juga membersihkan material longsor yang menutup jalan Kutacane-Blangkejeren serta kayu gelondongan yang menghambat aliran air di jembatan Bailey Pulo Latong.

Selain itu, BPBD mendirikan tenda posko pengungsian di Desa Bambel Gabungan.

Hingga Senin siang, air dilaporkan berangsur surut.

Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi masih dalam pendataan.

Laporan sementara BPBD menyebutkan tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut.(AFW11)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...