Kualasimpang. RU – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, sejak Minggu, 11 Oktober 2026 meluas ke delapan kecamatan.
Hingga Senin pagi, ratusan kepala keluarga (KK) dilaporkan mengungsi ke tempat yang lebih aman akibat kenaikan debit air.
Delapan kecamatan terdampak meliputi Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, dan Rantau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang terus memantau kondisi banjir dan mendata dampak yang ditimbulkan.
Ketinggian air di sejumlah desa bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga 1,5 meter, terutama di Desa Rongoh, Kecamatan Tamiang Hulu.
Sebagian warga mengungsi ke dataran tinggi, kantor desa, dan rumah kerabat.
Di Desa Gelung, Kecamatan Seruway, warga bahkan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan selama masa pengungsian.
Di sejumlah desa, air mulai surut sehingga sebagian warga berangsur kembali ke rumah.
Namun, di wilayah lain, debit air masih meningkat dan warga tetap bertahan di tempat pengungsian.
Putusnya tanggul sungai di Desa Marlempang turut menjadi salah satu penyebab cepatnya air menggenangi permukiman warga.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, S.STp., MSP., mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi.
Ia juga meminta seluruh camat memperketat pemantauan di wilayah masing-masing dan menyebarkan informasi yang akurat untuk mencegah kepanikan masyarakat.
“Masyarakat diharapkan mengutamakan keselamatan jiwa, hindari melintas di air yang dalam, dan ikuti arahan petugas,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
BPBD bersama pihak terkait terus memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi perkembangan banjir.
Sementara itu, total kerugian materiil akibat bencana tersebut masih dalam proses pendataan.(S04)













