Sinkhole di Aceh Tengah Ancam Lahan Warga, Tiga Desa Bergotong Royong

Tampak warga saat gotong royong massal secara swadaya di area lubang raksasa untuk minimalisir longsoran. Minggu 11 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/BI09]

Takengon. RU – Warga dari tiga desa di Kabupaten Aceh Tengah bergotong royong secara swadaya untuk mengantisipasi perluasan lubang raksasa atau sinkhole di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Minggu (11/10/2026).

Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko longsor yang terus meluas dan mengancam lahan milik warga.

Sinkhole tersebut merupakan longsoran aktif yang terjadi secara bertahap sejak awal 2000-an.

Area terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 30.000 meter persegi atau hampir tiga hektar, dengan kedalaman bervariasi hingga 100 meter di sejumlah titik.

Kondisi tersebut menimbulkan keresahan warga karena area longsoran terus melebar dan berdampak pada lahan masyarakat.

Warga Desa Blang Paku, Sukamakmur, dan Pondok Balik kemudian berinisiatif menggalang dana secara mandiri untuk mengurangi risiko perluasan longsoran.

Oka Basuki, salah seorang warga sekaligus penggagas kegiatan, mengatakan, gotong royong dilakukan dengan membuat saluran penampung atau talangan air untuk mengendalikan aliran air yang menuju ke jurang.

”Dengan cara menggalang dana kami mengakali agar jurang tidak terus longsor. Kami membuat talangan air di salah satu tempat pembuangan air menuju ke area jurang,” tutur Oka Basuki kepada rahasiaumum.com.

Talangan air tersebut dibuat menggunakan drum bekas yang disambung untuk mengarahkan aliran air.

Warga berharap langkah sederhana itu dapat membantu mengurangi risiko longsor, dengan dukungan dari berbagai pihak yang turut berpartisipasi.

”Berkat bantuan dari berbagai pihak, kami berterimakasih kepada semua nya yang telah peduli dan ikut membantu. Semoga apa yang kita kerjakan bersama ini membawa manfaat bagi masyarakat dan dapat mengurangi risiko longsor di jurang buangan besi Desa Pondok Balek,” imbuh Oka Basuki.

Gotong royong tersebut menjadi bentuk kepedulian masyarakat dalam menghadapi ancaman longsor yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Meski demikian, upaya warga diharapkan dapat didukung penanganan teknis dari pihak terkait untuk mengurangi risiko bencana di kawasan tersebut.(BI09)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...