Banda Aceh. RU – Pemerintah Aceh melalui PT Pembangunan Aceh (PEMA) menyepakati kerja sama investasi dengan dua perusahaan Malaysia untuk pengembangan sektor agroindustri hingga energi terbarukan.
Adapun dua perusahaan Malaysia yang menjalin kerja sama investasi tersebut yakni Kedah Agro Ausin Berhad untuk pengembangan agroindustri, perdagangan, agrowisata, logistik, teknologi, peternakan dan sumber daya manusia.
Kemudian, Tigallapan Investama, kerja sama yang dijalin terkait joint study potensi pengembangan energi terbarukan.
Selain dengan dua perusahaan Malaysia, dalam momen tersebut juga ditandatangani kerja sama dengan tiga perusahaan dalam negeri, yakni bersama PT Citaglobal untuk joint study potensi pengembangan energi dan bahan bakar berkelanjutan.
Lalu, PT Banda Sentra Nasional (BSNS) untuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Aceh. Serta, penandatanganan MoU sekaligus soft launching pabrik baja ringan, tenant hebel dan bata precast dengan PT Indo Surya Galvalume (ISG).
“Estimasi komitmen investasi dari perjanjian kerja sama dan nota kesepahaman tersebut sekitar Rp300 miliar lebih,” kata Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh,Taufik, Selasa (06/10/2026).
Rangkaian kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mendorong Aceh memasuki era industrialisasi baru dengan mengoptimalkan sumber daya daerah, dan menarik investasi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Sementara itu, Direktur PT PEMA, Faisal Ilyas mengatakan, Aceh memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi ekonomi yang besar. Tetapi, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Baik itu dari sektor pertanian, perikanan, perkebunan, hingga minyak dan gas masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pengelolaan, pengembangan industri, dan hilirisasi.
Faisal menilai, salah satu persoalan mendasar ekonomi Aceh adalah masih banyak komoditas yang dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu langkah penting yang perlu diperkuat.
“Artinya, Aceh harus mulai membangun industri pengolahan sehingga komoditas lokal tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Faisal.(TH05)













