Banda Aceh. RU – Pengembangan pariwisata Banda Aceh perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan dan memperbesar dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Jalaluddin saat membuka ASTINDO Nanggroe Aceh Travel Fair (ANAT Fair) 2026 di Suzuya Mall Banda Aceh, Jumat (25/09/2026).
Mengusung tema “Jelajahi Dunia dari Serambi Mekkah”, kegiatan tersebut diikuti pelaku usaha perjalanan wisata, maskapai, perhotelan, restoran, UMKM, dan mitra pariwisata.
“Pariwisata bukan sekadar pergerakan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Pariwisata adalah tentang pengalaman (experience),” ujar Jalaluddin.
Ia menyebut tiga hal yang perlu diperkuat, yakni kemudahan pelayanan pemerintah, dampak ekonomi bagi masyarakat, serta kenyamanan dan pengalaman wisatawan.
“Pemko Banda Aceh berkomitmen untuk tidak menjadi penghambat, melainkan fasilitator. Terus memangkas birokrasi, mempercepat perizinan, dan memanfaatkan teknologi digital untuk membangun ekosistem pariwisata yang solid,” sebut Jalaluddin.
Jalaluddin menegaskan kunjungan wisatawan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Pariwisata tidak boleh berhenti pada konsep datang, berfoto, lalu pulang. Setiap pergerakan wisatawan harus berdampak langsung pada ekonomi warga, mulai menginap di hotel, makan di warung dan restoran lokal, menggunakan transportasi, menyeduh kopi Aceh, membeli oleh-oleh UMKM, hingga jasa pemandu wisata,” imbuhnya.
Banda Aceh saat ini memiliki lebih dari 20 hotel berbintang dan lebih dari 80 akomodasi nonbintang.
Pada Januari-Juli 2026, tercatat lebih dari 1,84 juta kunjungan wisatawan, terdiri dari sekitar 1,82 juta wisatawan nusantara dan lebih dari 20.000 wisatawan mancanegara.
“Melalui ANAT Fair ini, saya harap bukan hanya tempat promosi paket wisata, tapi menjadi ruang untuk membangun jaringan, membuka pasar baru, dan memperkuat kemitraan,” katanya.
Jalaluddin juga menilai Banda Aceh memiliki modal wisata berupa sejarah, budaya, spiritualitas, pesisir, tradisi warung kopi, hingga rekam jejak tsunami.
“Kunci pariwisata berkelanjutan adalah mengejar kualitas kesan. Banda Aceh punya modal sejarah, budaya, spiritual yang kokoh, mulai wisata religi, situs sejarah, tradisi warung kopi, keindahan pesisir, hingga rekam jejak tsunami yang mendunia,” lanjutnya.
Ia menekankan pengembangan pariwisata membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dengan berlandaskan nilai “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe”.
“Pemerintah tidak bisa sendiri. Dunia usaha dan komunitas tidak bisa terpisah. Banda Aceh Kota Kolaborasi adalah komitmen nyata membangun pariwisata bersama,” ujarnya.(R10)













