MIN 10 Aceh Tamiang Berubah Paras, Pihak Sekolah Risaukan Keterbatasan Ruang Kelas

Tampak kondisi gedung MIN 10 Aceh Tamiang, di Kebun Tiga, Desa Semadam, Kecamatan Kejuruan Muda yang hamper rampung diperbaiki. Senin 21 September 2026 [Dok. rahasiaumum.com/S04]

Kualasimpang. RU – Penanganan keadaan darurat pascabencana prasarana madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 10 Aceh Tamiang memasuki tahap akhir.

Renovasi fisik gedung sekolah tersebut hampir rampung dan kini mengubah kondisi prasarana belajar murid menjadi jauh lebih baik.

Proyek perbaikan ini dibiayai melalui APBN Tahun 2026 di bawah Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Prasarana Strategis melalui Satuan Kerja Pelaksana Prasarana Strategis Aceh.

Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh penyedia jasa WIKA, RCM, dan KSO, dengan supervisi dari PT Widha Konsultan sebagai konsultan pengawas.

Rampungnya pembenahan fisik ini disambut antusias oleh para siswa kelas VI, Jihan Aqilah dan Alfarizi.

Meski berada di tahun terakhir masa sekolah, mereka mengapresiasi perbaikan fasilitas yang ada demi kenyamanan adik-adik kelas mereka kelak.

“Senang sekali, ruangan belajar kami jadi lebih cantik. Kami sudah kelas enam, tapi tetap senang sekolah jadi bagus, karena adik-adik kami masih banyak yang akan belajar di sini,” ungkap Jihan Aqilah, Senin (21/09/2026).

Saat ditanya mengenai rencana kelanjutan studi, Jihan mengaku belum menentukan pilihan. Sementara itu, Alfarizi menuturkan kelanjutan pendidikannya.

“Kalau saya, Insya Allah akan melanjutkan ke Pesantren,” ujar Alfarizi.

Keterbatasan Ruang dan Meubelai

Di balik rampungnya pembenahan gedung, Kepala MIN 10 Aceh Tamiang, Amiruddin, S.Pd., menaruh kekhawatiran mendalam menjelang tahun ajaran baru 2026–2027.

Kualitas fisik bangunan yang membaik diprediksi akan meningkatkan minat pendaftar baru, sementara kapasitas daya tampung sekolah sangat terbatas.

“Gedung makin bagus, pasti peminat makin banyak. Saya justru bingung, nanti mereka ditempatkan di mana?” keluh Amiruddin.

Saat ini, MIN 10 Aceh Tamiang menampung 213 siswa dengan sarana yang hanya terdiri dari tiga ruang kelas.

Kondisi tersebut memaksa kegiatan belajar mengajar dibagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan siang.

Masalah tak berhenti pada kapasitas ruang.

Sebagian besar perabotan dan meubelai sekolah hancur akibat terendam banjir bandang sebelumnya dan hingga kini belum mendapatkan penggantian.

“Perbaikan bangunan hampir selesai, tapi perabotannya belum ada solusi. Belum ada dana untuk penggantian, lahan untuk tambahan ruang pun tidak ada,” ungkap Amiruddin.

Pihak sekolah berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan susulan untuk mengatasi krisis perabotan dan keterbatasan lahan guna menunjang kegiatan belajar mengajar secara optimal.(S04)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...