Bireuen. RU – Penyaluran bantuan jaminan hidup (Jadup) di Kabupaten Bireuen menuai protes akibat amburadulnya data korban bencana.
Korban bencana di salah satu desa di Bireuen, mengungkapkan, dari delapan keluarga yang diusulkan pada tahap awal, hanya empat keluarga yang menerima bantuan Jadup.
Warga yang minta tak ditulis namanya itu juga mengatakan, kekecewaan masyarakat memuncak setelah digelar rapat mendadak beberapa hari lalu bersama aparatur desa.
“Saat tim verifikasi turun ke desa, Sekdes hanya membawa mereka ke delapan keluarga saja. Padahal masih banyak korban lain yang terdampak parah, tetapi tidak didata. Ini yang membuat masyarakat marah,” ujarnya dikutip Senin (20/04/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut memicu kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
“Seharusnya bantuan dibagikan secara adil dan merata, bukan terkesan pilih kasih. Ini sangat berbahaya bagi keharmonisan masyarakat,” tambahnya.
Persoalan dalam penyaluran bantuan Jadup di Kabupaten Bireuen bukan hanya terjadi di satu desa.
Sejumlah laporan menyebutkan bantuan tidak tepat sasaran, bahkan desa yang terdampak ringan justru menerima bantuan lebih banyak dibandingkan desa yang mengalami dampak lebih parah.
Kondisi ini menimbulkan desakan dari warga Bireuen, agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pendataan dan penyaluran bantuan, sehingga hak para korban bencana benar-benar terpenuhi secara adil.(TH05)














