1.794 Hektare Tambak di Pidie Rusak Akibat Banjir

Tambak di Pidie
Tambak masyarakat di Pidie yang rusak akibat banjir. (Foto: Dok DKP)

Sigli. RU – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie, turut merusak 1.794 hektare tambak ikan milik warga.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pidie mencatat, selain tambak, banjir juga merusak pintu air, saluran perikanan, serta jalan produksi tambak.

Kerusakan tersebut berdampak langsung pada terhentinya aktivitas budidaya dan distribusi hasil perikanan, khususnya di Kecamatan Glumpang Baro, Kembang Tanjong, dan Simpang Tiga.

Padahal sebelumnya, kawasan-kawasan ini menjadi basis utama produksi perikanan budidaya air payau di Kabupaten Pidie.

Kepala DKP Kabupaten Pidie, Safrizal mengatakan, kerusakan tambak dan infrastruktur pengairan menyebabkan pembudidaya kehilangan satu hingga dua siklus produksi.

“Dampak banjir ini tidak hanya merusak fisik tambak, tetapi juga memutus mata pencaharian masyarakat pesisir. Banyak pembudidaya terpaksa menghentikan usaha karena sistem pengairan rusak dan benih hanyut,” ujar Safrizal dikutip Senin (05/01/2026).

Ia menjelaskan, kerugian mencakup kerusakan sarana prasarana, hilangnya potensi panen, serta biaya pemulihan yang harus ditanggung pembudidaya dalam waktu singkat.

Banjir tersebut menimbulkan tekanan sosial ekonomi bagi ribuan keluarga pembudidaya dan pekerja tambak.

Terhentinya produksi berdampak pada penurunan pendapatan harian, meningkatnya kerentanan ekonomi rumah tangga pesisir, serta terganggunya rantai pasok perikanan lokal.

Sejumlah pembudidaya mengaku kesulitan memulai kembali usaha karena keterbatasan modal, rusaknya tanggul tambak, serta kebutuhan perbaikan pintu air dan saluran yang memerlukan biaya besar.

Saat ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktur Prasarana dan Sarana Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya sudah melakukan verifikasi lapangan untuk validasi data sektor perikanan budidaya terdampak banjir. 

Direktur Rumput Laut DJPB KKP-RI, Nono Hartanto, menyatakan siap memberikan dukungan pemulihan sektor perikanan di wilayah terdampak banjir.

Dukungan tersebut meliputi rehabilitasi tambak, bantuan sarana dan prasarana budidaya, agro input, serta pendampingan teknis bagi pembudidaya terdampak.

“KKP akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam percepatan pemulihan pascabencana, termasuk mendorong rehabilitasi tambak dan penguatan ketahanan usaha pembudidaya,” kata Nono Hartanto.

Selain pemulihan jangka pendek, KKP juga mendorong penguatan kebijakan mitigasi bencana di kawasan sentra perikanan, seperti perbaikan tata kelola drainase, peningkatan kualitas tanggul dan pintu air, serta integrasi mitigasi perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan perikanan daerah.(TH05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *