“Masyarakat berhak atas keberatan. Negara tidak boleh menutup ruang koreksi. Tugas kami adalah memastikan suara…
feature
Huntara dan Huntap, Antara Janji Negara dan Gubuk Warga Sekumur
Dari Regulasi yang Lengkap, ke Realitas yang Kosong KAMPUNG Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang; Di…
HUNTARA BERDIRI, RASA AMAN BELUM HADIR
“Kami tidak menuntut mewah. Kami hanya ingin hidup normal kembali.” [Penyintas banjir, Aceh Tamiang] Suara…
MENYEMPIT DI JALAN KE ATAS
Bagaimana Laporan 100 Persen Bisa Bertemu Realitas Setengah Jalan PAGI di kawasan hunian sementara Aceh…
SAAT DATA JADI API, KAUR DESA TERJEPIT DI TENGAH BANJIR DAN TEKANAN PUBLIK
Dilema Kaur Desa di Tengah Banjir Aceh Tamiang DI RUANG sempit kantor desa yang lembap…
RUMAH YANG TAK PERNAH DIHITUNG
“Selama bantuan rehabilitasi hanya dipaku pada pemilik rumah, maka penyewa akan selamanya menjadi bayangan yang…
KAYU, RUMAH, DAN WAKTU YANG DIPERCEPAT
“Kami tidak ingin pemulihan ini melahirkan masalah hukum baru. Rakyat butuh rumah, tapi negara juga…
BENCANA DAN BAYANG POLITIK
DI TENGAH hujan yang kerap turun tanpa jeda, Aceh kembali bergulat dengan luka lama bernama…
35 Hari Setelah Lumpur Datang; Aceh Tamiang yang Masih Tertinggal
TIGA puluh lima hari telah berlalu sejak amarah bumi meluap di Aceh Tamiang. Banjir ekologis…
SUNGAI MENGANTAR NEGARA
“Saya tegaskan, tidak benar ada masyarakat Aceh Tamiang yang hari ini kelaparan. Pemerintah bersama TNI,…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.


