Kualasimpang. RU - Berkurangnya tumpukan sampah kayu di aliran daerah aliran sungai (DAS) Aceh Tamiang dimanfaatkan warga untuk menangkap ikan dan udang secara tradisional.
Puluhan warga terlihat turun ke sungai dengan membawa jala dan jaring serokan.
Suasana ramai terlihat di Desa Tanjung Seumentoh, Kecamatan Karang Baru.
Warga berbondong-bondong menebarkan jala dan mengayunkan jaring serokan untuk menangkap ikan yang mulai bermunculan di aliran sungai.

Agus Kurniawan, salah seorang warga yang ikut menangkap ikan, mengatakan, kemunculan ikan dan udang mulai terlihat setelah tumpukan sampah kayu yang sebelumnya memenuhi sungai berkurang.
“Sehabis sampah kayu-kayu mulai berkurang, ikan mulai naik. Udang juga ada,” ujarnya kepada rahasiaumum.com, Minggu (08/11/2026).
Aktivitas serupa juga dilakukan warga Desa Padang Langgis, Kecamatan Seruway.
Kegiatan yang berlangsung secara spontan itu dimulai sekitar pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Selama dua jam, warga berupaya menangkap berbagai jenis ikan yang muncul di perairan tersebut.
Hasil tangkapan warga terbilang cukup banyak.
Kondisi itu menambah kegembiraan masyarakat yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan ikan dan udang.
Agus menyebutkan, fenomena serupa pernah terjadi pada 2024.
Namun, saat itu kemunculan ikan berlangsung lebih lama dibandingkan kejadian pada Minggu ini.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab meningkatnya kemunculan ikan dan udang setelah tumpukan sampah kayu berkurang.
Meski demikian, warga menyambut fenomena tersebut dengan sukacita.
Bagi masyarakat setempat, kegiatan menangkap ikan bukan sekadar kesempatan memperoleh hasil dari sungai, melainkan juga menjadi ajang mempererat kebersamaan.
Warga saling menyemangati ketika ada yang berhasil mendapatkan ikan atau udang.
Suasana kekeluargaan pun terasa di sepanjang tepian sungai.
Masyarakat berharap kondisi DAS Aceh Tamiang terus membaik sehingga potensi sumber daya alam sungai tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.(S04)













