Banda Aceh. RU – Gerimis membasahi tumpukan tanah liat dan batu bata di sebuah tempat pembuatan batu bata sederhana di Gampong Lambiheu Siem, Aceh Besar yang berada dipinggiran Kota Banda Aceh, Jumat (23/10/2026) sore.
Tanah menjadi becek, tetapi aktivitas kerja tak berhenti.
Aisyah (38) dan Parman (42) tetap mengolah tanah liat demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di tengah peralatan sederhana dan lingkungan kerja yang berlumpur, keduanya telaten membentuk tanah liat menjadi batu bata.
Tangan mereka terus bergerak, mencetak dan merapikan bahan baku agar menjadi bahan bangunan yang kelak menyusun dinding rumah.

Bagi sebagian orang, batu bata hanyalah material untuk mendirikan bangunan.
Namun, bagi Aisyah dan Parman, setiap bata yang dihasilkan memiliki arti lebih dari sekadar barang jualan.
Di sanalah tenaga dan waktu mereka dipertaruhkan untuk mendapatkan penghasilan.
“Jujur bang, kita lelah, tapi untuk kebutuhan isi perut semua kita lakukan bang,” ujar Aisyah kepada Rahasia Umum, Jumat sore.
Kalimat itu menggambarkan kenyataan yang dihadapi pekerja harian seperti Aisyah.

Rasa lelah harus disisihkan karena kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Ketika penghasilan bergantung pada pekerjaan yang dilakukan setiap hari, berhenti bekerja bukan pilihan yang mudah.
Di tempat itu, Aisyah bergulat dengan tanah liat yang harus dibentuk dan dirapikan.
Pakaian yang kotor serta peluh yang membasahi tubuh menjadi bagian dari rutinitasnya.
Meski gerimis turun, pekerjaan tetap dilanjutkan selama masih memungkinkan.
Parman menjalani perjuangan serupa.
Ia mengolah tanah liat dengan tenaga dan kesabaran agar dapat dicetak menjadi batu bata yang siap dijual.
Prosesnya membutuhkan ketekunan, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga membentuk setiap bata.
Tanah liat yang semula tak banyak bernilai diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Namun, di balik hasil yang tampak sederhana itu, terdapat kerja fisik yang menguras tenaga dan waktu.
Batu bata yang tersusun rapi mungkin terlihat seragam.
Akan tetapi, setiap susunannya menyimpan cerita tentang orang-orang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan tersebut.
Ada tenaga yang terkuras, pakaian yang dipenuhi tanah, dan harapan agar hasil kerja hari itu cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi Aisyah dan Parman, pekerjaan ini bukan semata-mata soal menghasilkan bahan bangunan.
Ada kebutuhan dapur yang harus dipenuhi dan hari esok yang perlu dipersiapkan.
Selama tenaga masih memungkinkan, mereka terus bekerja di tengah keterbatasan.
Kelak, batu bata buatan mereka mungkin menjadi bagian dari rumah yang kokoh dan nyaman.
Namun, sebelum tersusun menjadi dinding, setiap bata melewati proses panjang yang melibatkan peluh dan ketekunan.
Di balik bangunan yang berdiri tegak, ada perjuangan para pekerja seperti Aisyah dan Parman.
Mereka menyambung hidup dengan tenaga sendiri, menjaga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, meski lelah kerap datang tanpa bisa ditunda.(RSR12)













