Film Dokumenter NAZA Tayang di Indonesia Mulai 16 Oktober

Naza
Sutradara NAZA, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham berpose di Festival Film Venice, di Venice, Italia, Kamis (10/9/2026). [Foto: EPA/Rahasiaumum.com]

Jakarta.RU – Film dokumenter yang membongkar sistem pembunuhan massal Israel di Gaza, NAZA, bakal tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Oktober 2026. Film arahan sutradara Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor itu resmi didistribusikan di Indonesia oleh KlikFilm.

Direktur KlikFilm, Frederica, menyampaikan bahwa kehadiran NAZA di bioskop Indonesia merupakan bagian dari komitmen KlikFilm untuk menghadirkan film-film pilihan dari berbagai belahan dunia, termasuk karya dokumenter yang membawa isu kemanusiaan dan membuka ruang refleksi bagi penonton.

Baginya, film bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah cerita bisa membuka mata, menyentuh hati, dan membuat kita melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

“NAZA mengangkat isu kemanusiaan yang sangat penting untuk kita perhatikan bersama. Kami berharap film ini bisa mengajak penonton Indonesia untuk tidak hanya menyaksikan sebuah peristiwa, tetapi juga merenungkan nilai kehidupan, empati, dan kemanusiaan di tengah situasi yang begitu sulit,” kata Frederica dikutip Sabtu (10/10/2026).

Ia menambahkan, KlikFilm ingin terus memberikan kesempatan kepada penonton Indonesia untuk menyaksikan film-film internasional yang memiliki kekuatan cerita, keberanian artistik, dan relevansi sosial yang kuat.

Menurut Frederica, penghargaan di Venice Film Festival dan respons luar biasa yang diterima NAZA menunjukkan bahwa cerita tentang kemanusiaan dapat melampaui batas negara dan bahasa.

“Kami berharap penayangan film ini di Indonesia dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat, memahami, dan mendiskusikan isu kemanusiaan yang menjadi perhatian dunia,” kata dia.

Melalui penayangan NAZA, KlikFilm kembali menghadirkan karya sinema internasional yang mengangkat isu penting dan mengajak penonton melihat realitas kemanusiaan dari perspektif yang lebih dekat. Film ini bukan sekadar dokumentasi peristiwa, melainkan sebuah kesaksian tentang tragedi yang terus menyisakan luka bagi masyarakat Gaza.

“Dengan pencapaian internasional dan tema yang relevan, NAZA diharapkan menjadi salah satu film dokumenter yang meninggalkan kesan mendalam bagi penonton Indonesia,” kata Frederica.

Selain di Indonesia, film produksi The Guardian ini juga tayang secara bertahap di 50 negara dan wilayah. Nantinya, dokumenter NAZA akan tersedia secara daring di situs resmi The Guardian.

Film dokumenter itu sebelumnya menggelar world premier di Festival Film Venesia 2026 dan meraih Penghargaan Khusus Juri. NAZA juga mendapat tepuk tangan meriah selama 25 menit setelah pemutarannya di festival tersebut.

Film NAZA mengangkat kesaksian 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel, yang identitasnya dirahasiakan, mengenai operasi militer di Gaza. Film ini memperlihatkan secara rinci sistem yang berada di balik operasi pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza, NAZA dibuat secara rahasia selama sekitar tiga tahun.

Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara.

Menurut sumber militer IDF, sistem berbasis Al yang dikenal sebagai “Lavender” memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai interaksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.

Salah satu sumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game.

“Prosesnya seperti permainan video, karena semuanya dilakukan dari jarak jauh dan terasa sangat menyenangkan,” kata sumber militer Israel perihal teknologi Al yang dirancang untuk membunuh warga Gaza.

Beberapa sumber juga berbicara mengenai penghancuran rumah warga sipil, pengabaian terhadap hukum kemanusiaan, serta suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina.

Di tengah respons positif terhadap film tersebut di festival internasional, Abraham dan Szor menghadapi kecaman serta ancaman di Israel. Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, mengancam akan mencabut kewarganegaraan dua sutradara film dokumenter NAZA. Zohar menuduh kedua sineas tersebut telah mengkhianati negara, sehingga layak untuk dicabut kewarganegaraannya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengupayakan undang-undang baru yang memungkinkan Israel mencabut kewarganegaraan orang yang menjelek-jelekkan tentara Israel dan mencemarkan nama baik Israel. 

Sementara itu, Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat film tersebut karena merasa berkewajiban menggunakan posisi mereka sebagai warga Israel untuk mengkaji sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza.

“Kami membuat film ini karena merasa berkewajiban untuk menggunakan posisi kami sebagai warga Israel guna menelaah sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina, yang menjadi tanggung jawab negara kami,” kata keduanya.

Mereka menegaskan ancaman pemerintah Israel untuk mencabut kewarganegaraan dan ancaman pembunuhan tidak mengubah keputusan mereka serta tidak akan menghentikan film tersebut, “Kami berterima kasih kepada rekan-rekan kami atas solidaritas mereka dan menantikan saat untuk membagikan NAZA ke seluruh dunia dalam waktu dekat,” kata Abraham dan Szor.(TH05/Republika)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...