Tenun dan Songket Aceh Dinilai Punya Nilai Budaya Sekaligus Ekonomi

Tampak Ketua Dekranasda Aceh Marlina Usman saat meninjau sentra tenun Yayasan Seramoe Jumpa binaan Dekranasda Bireuen di Gampong Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa. Selasa 11 Agustus 2026 [Dok. Biro Adpim Setda Aceh/rahasiaumum.com]

Bireuen. RU – Warisan tenun dan songket Aceh dinilai perlu terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.

Ketua Dekranasda Aceh Marlina Usman atau Kak Na mengajak para perajin memperluas regenerasi dengan mengajarkan keterampilan tersebut kepada anak-anak muda.

Pesan itu disampaikan Kak Na saat mengunjungi sentra tenun Yayasan Seramoe Jumpa binaan Dekranasda Bireuen di Gampong Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa, Selasa (11/08/2026).

“Karena itu, adik-adik tentu harus mengajak teman sebaya untuk mencintai tenun dan songket Aceh. Ajak mereka, ajari mereka agar lebih banyak generasi muda yang memiliki keahlian ini. Dengan demikian, masyarakat Aceh akan terus melestarikan budaya yang bernilai ekonomi tinggi ini,” sambung Kak Na.

Bersama Ketua Dekranasda Bireuen Sadriah Mukhlis, Kak Na kemudian meninjau Pardan Decoration, sentra kerajinan kayu jati milik Ari Fonna di Gampong Seuleumbah, Kecamatan Jeumpa.

Ari menekuni usaha tersebut secara otodidak melalui tutorial YouTube. Kini, usahanya mampu mempekerjakan 12 warga lokal dengan omzet Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan.

“Saya belajar secara otodidak Bu, saya memanfaatkan YouTube untuk belajar. Alhamdulillah. Dari usaha ini saya bisa merekrut 12 pekerja lokal dan mendapatkan omset sebesar Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan,” ungkap Ari.

Kak Na mengapresiasi perkembangan usaha tersebut karena tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Keren, karena tekad dan semangat Ari, kini kita memiliki sentra kerajinan kayu jati dengan produk yang sangat baik. Dulu kita hanya melihat kerajinan ini di Pulau Jawa, kini di Aceh sudah ada kerajinan ini,” pungkas Kak Na.(R10)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...