Banda Aceh. RU – Penguatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia.
Hal itu disampaikan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal saat menutup Program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) 2026 di The Pade Hotel, Minggu (20/07/2026).
Penutupan program tersebut ditandai dengan penabuhan rapai bersama oleh Illiza, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh Agus Chusaini, serta sejumlah pejabat terkait.
Illiza mengatakan keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal, tetapi juga kemauan pelaku usaha untuk terus belajar dan menjaga kualitas produk.
Ia mengapresiasi konsistensi Bank Indonesia yang telah menjalankan program WUBI sejak 2014.
“Yang paling penting bukan hanya produknya bagus, tetapi pelaku usahanya juga terus mau belajar. Dunia usaha terus berubah sehingga pelaku UMKM harus mampu mengikuti perubahan, termasuk memanfaatkan platform digital dan teknologi AI,” ujar Illiza.
Menurut dia, pola konsumen dalam menentukan pilihan produk juga mengalami perubahan.
Promosi, kata Illiza, dapat menarik pelanggan datang, tetapi kualitas menjadi faktor yang membuat mereka kembali.
“Promosi bisa membuat orang datang pertama kali. Tetapi kualitaslah yang membuat pelanggan kembali lagi,” katanya.
Illiza menyebut Banda Aceh saat ini memiliki 47.497 UMKM yang mampu menyerap 66.417 tenaga kerja.
Menurutnya, sektor usaha mikro memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat.
“Jangan pernah memandang usaha mikro sebagai usaha yang kecil. Karena dampaknya bagi masyarakat tidak pernah kecil,” kata Illiza.
Ia menjelaskan Pemko Banda Aceh terus membangun ekosistem pendukung UMKM melalui berbagai program, seperti Banda Aceh Academy untuk peningkatan kapasitas, platform Usaha Teman sebagai sarana promosi digital, serta penguatan Dekranasda agar produk lokal memiliki nilai tambah.
Selain itu, pemerintah kota juga menghadirkan ruang promosi melalui revitalisasi IKM Center Ulee Lheue, penyelenggaraan festival, pemanfaatan ruang publik, hingga kegiatan car free day.
Illiza mendorong kerja sama yang lebih erat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan perbankan untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM binaan.
“Kami berharap peserta dapat memperoleh akses permodalan sehingga usaha yang sudah berkembang bisa terus naik kelas,” katanya.
Ia berpesan kepada para peserta agar terus mengembangkan usaha dan berani memperluas pasar.
“Teruslah berkarya, terus belajar, terus berinovasi, dan jangan ragu membawa produk-produk terbaik Aceh ke pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Aceh Agus Chusaini mengatakan WUBI merupakan program tahunan Bank Indonesia yang bertujuan memperkuat UMKM melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan perbankan.
“Tahun ini ada 90 peserta tahap awal yang akan dikurasi menjadi 50 peserta untuk mengikuti inkubasi selama dua bulan. Materinya mulai dari digitalisasi, pemanfaatan AI, manajemen usaha, hingga pendampingan oleh mentor dan alumni WUBI,” ujar Agus.
Agus menyampaikan keberhasilan program akan dilihat dari peningkatan omzet, inovasi produk, penerapan digitalisasi usaha, serta perluasan pasar peserta.
Seluruh peserta juga akan memperoleh sertifikat dari Bank Indonesia.(R10)













