Bupati Bireuen Dinilai Gagal Lakukan Pemulihan Pascabencana

Pengungsi Gelar Aksi
Pengungsi korban banjir menggelar aksi dengan mendirikan tenda di halaman Kantor Bupati Bireuen untuk menuntut kejelasan penyaluran DTH dan Jadup. (Foto: kiriman warga)

Bireuen. RU – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Bireuen melalui Sekretaris Umum HMI, M Yaziz, menilai Bupati Bireuen gagal melakukan pemulihan pascabencana.

“Faktanya masih ada warga yang harus bertahan di tenda sampai sekarang. Ini menunjukkan pemulihan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat. Bupati Bireuen gagal dalam kebijakan,” ujar Yaziz dikutip Selasa (31/03/2026).

Seperti diketahui, banjir bandang yang menerjang sejumlah kecamatan di Bireuen pada akhir tahun lalu merusak ratusan rumah warga.

Pemerintah daerah kemudian menetapkan masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan serta menyiapkan sejumlah skema bantuan.

Salah satu yang disiapkan adalah Dana Tunggu Hunian (DTH) bantuan bagi korban yang rumahnya tidak lagi dapat ditempati sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Namun di lapangan, hak-hak para korban malah terabaikan.

Menurut Yaziz, sebagian warga masih menunggu kepastian mengenai pembangunan rumah mereka, terutama mereka yang tidak memiliki lahan untuk membangun kembali tempat tinggal.

“Pemulihan pascabencana tidak cukup diukur dari laporan administratif. Ukurannya sederhana, apakah masyarakat sudah kembali punya rumah dan bisa hidup normal,” ujarnya.

Selain hunian, HMI MPO Bireuen juga menyoroti dampak bencana terhadap sektor pertanian.

Endapan lumpur yang terbawa banjir menutup ribuan hektare lahan sawah di beberapa kecamatan, banyak petani belum dapat kembali mengolah lahannya.

Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya bukan hanya pada produksi pertanian, tetapi juga pada ekonomi rumah tangga masyarakat desa.

“Bagi masyarakat Bireuen, sawah adalah sumber hidup. Kalau lahan tidak segera dipulihkan, dampaknya bisa panjang bagi ekonomi warga,” katanya.

Di tengah situasi tersebut, muncul pula narasi di ruang publik yang menyebut keberadaan pengungsi di sekitar kantor pemerintahan dipicu oleh provokasi pihak tertentu.

Tudingan itu berkembang di media sosial dan perbincangan lokal. Yaziz menilai narasi semacam itu berisiko mengaburkan persoalan utama.

“Jangan sampai penderitaan masyarakat yang kehilangan rumah justru diarahkan ke narasi seolah-olah mereka sedang diprovokasi. Faktanya, mereka bertahan di tenda karena belum ada kepastian hunian,” tegas Yaziz.

Keberadaan pengungsi di halaman kantor pemerintahan, seharusnya dibaca sebagai bentuk kegelisahan warga yang menunggu kepastian masa depan, bukan sekadar manuver politik.

“Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan polemik, tetapi solusi konkret,” kata Yaziz.

Ia juga mendorong pemerintah daerah agar membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat terdampak dan organisasi sipil dalam proses pemulihan pascabencana.

Bagi HMI MPO Bireuen, pemulihan tidak hanya berarti memperbaiki jalan atau jembatan yang rusak. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat yang terdampak bisa kembali menjalani kehidupan secara layak.(TH05)

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...