Sukamakmue. RU – Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, mengecam media massa yang melakukan framing dengan mengarahkan persepsi publik bahwa warga Beutong menerima aktivitas tambang di wilayah itu.
Padahal, masyarakat masih kompak menolak aktivitas tambang di Beutong Ateuh Banggalang, karena dikhawatirkan bisa membuat warga kehilangan hak atas tanah dan ruang hidupnya.
Kecaman ini juga diikuti dengan melayangkan surat keberatan kepada sejumlah media yang melakukan framing.
Saudah, warga Beutong Ateuh, menegaskan media seharusnya menulis berdasarkan fakta lapangan secara berimbang.
“Harusnya media menulis sesuai fakta, tidak melebih-lebihkan, apalagi mengarahkan pada narasi tertentu yang tidak sesuai suara masyarakat,” kata Saudah, dikutip Senin (18/05/2026).
Menurut Saudah, pemberitaan yang bias itu muncul dari aksi settingan yang digelar di kantor camat sehari setelah demonstrasi penolakan tambang..
Tokoh ulama Beutong Ateuh, Abu Kamil, juga menilai masyarakat yang hadir saat aksi ‘menerimaan tambang’ di kantor camat itu tidak sepenuhnya mengetahui agenda sebenarnya.
“Masyarakat yang dihadirkan ke kantor camat tidak tahu-menahu. Yang masyarakat tahu adalah adanya sembako murah, namun tiba-tiba ada pembentangan spanduk yang bertuliskan; warga terima tambang,” ujar Abu Kamil.
Abu Kamil menegaskan mayoritas masyarakat Beutong Ateuh tetap konsisten menolak seluruh bentuk pertambangan demi menjaga tanah mereka dari ancaman kerusakan lingkungan, bencana ekologis, serta hilangnya ruang hidup masyarakat.
Warga berharap media menjalankan prinsip jurnalistik secara profesional, melakukan verifikasi fakta yang akurat, dan tidak membangun narasi yang dapat menyesatkan publik.
Melalui surat keberatan tersebut, masyarakat meminta klarifikasi atas pemberitaan yang dianggap tidak sesuai fakta serta menegaskan kembali bahwa perjuangan warga Beutong Ateuh menolak tambang tetap berlanjut.(TH05)














