Meulaboh. RU – Pembangunan Rumah Sakit (RS) Regional Aceh Barat dilaporkan mangkrak, dimana progres pembangunan rumah sakit itu masih sekitar 50 persen.
Mangkraknya pembangunan RS ini berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan apabila tidak segera dilanjutkan. Sementara, dana tambahan yang dibutuhkan untuk melanjutkan pembangunan RS tersebut diperkirakan mencapai Rp200 miliar lagi.
Gagasan pembangunan RS Regional Aceh Barat ini dirintis sejak masa Pemerintahan Aceh dipimpin dr Zaini Abdullah.
Rumah sakit tersebut dirancang agar mampu menghadirkan layanan kesehatan modern bagi masyarakat Aceh, khususnya wilayah barat-selatan Aceh (Barsela), sehingga ketergantungan terhadap RSUD dr Zainoel Abidin di Banda Aceh dapat berkurang.
Terkait mangkarnya pembangunan RS Regional ini, Bupati Aceh Barat, Tarmizi mengatakan, pendanaan melalui APBA saat ini sedang dibahas di tingkat Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA).
Ia berharap tahun ini tersedia alokasi minimal Rp50 miliar agar proyek tidak kembali kosong anggaran.
Selain itu, Pemkab Aceh Barat juga mengusulkan skema multiyears dengan dukungan minimal Rp 150 miliar saat dana Otonomi Khusus kembali tersedia.
Menurut Tarmizi, apabila dukungan anggaran terpenuhi, maka RS Regional Aceh Barat ditargetkan dapat mulai difungsikan pada akhir 2028.
“Jika tersedia tambahan sekitar Rp200 miliar lagi, fasilitas IGD, rawat inap hingga poli pelayanan dapat diselesaikan sepenuhnya,” katanya.
Keberadaan rumah sakit tersebut dinilai strategis karena akan melayani masyarakat di tiga kabupaten dalam kawasan Barat Selatan Aceh.(TH05)














