Banda Aceh. RU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh merilis potensi penurunan drastis produksi padi pada awal tahun 2026.
Data ini diungkapkan di sela-sela Workshop Statistik Pertanian dan sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang digelar di Banda Aceh untuk memperkuat literasi data publik, Rabu (11/2/2026).
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Aceh, Hendra Gunawan, memaparkan data yang menunjukkan tren penurunan produksi pangan yang cukup signifikan.
Sepanjang tahun 2025, total produksi padi di Aceh tercatat sebanyak 1.615,20 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), menyusut 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan paling tajam terlihat pada periode III (September-Desember 2025) yang anjlok hingga 16,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Terdapat potensi penurunan drastis pada awal tahun 2026. Angka potensi produksi padi periode Januari-Maret 2026 diperkirakan hanya 275,87 ribu ton, atau merosot tajam sebesar 41,42 persen dibandingkan realisasi periode yang sama di tahun 2025,” jelas Hendra Gunawan.
Sebelumnya, produksi beras tahun 2025 juga menyusut sebesar 25,79 ribu ton menjadi 930,49 ribu ton.
Untuk awal tahun 2026, produksi beras diprediksi hanya akan menyentuh angka 158,93 ribu ton, turun drastis 41,42 persen dari tahun lalu.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria menegaskan bahwa data berkualitas adalah instrumen vital dalam pengambilan kebijakan publik agar tepat sasaran.
Di tengah tantangan sektor pertanian, BPS Aceh juga mulai mempersiapkan Sensus Ekonomi (SE2026) yang akan dilaksanakan pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026 yang bertujuan memotret fenomena ekonomi baru seperti ekonomi digital, ekonomi lingkungan, serta mengukur kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, BPS memperkenalkan maskot “Bung Itung” sebagai simbol kesadaran data.
Ia berharap hasil SE2026 ini nantinya dapat mengidentifikasi persoalan riil dunia usaha dan meningkatkan daya saing ekonomi wilayah.(TH05)















