Walhi: Kolam Mata Ie Kering Akibat Hilangnya Daerah Resapan

Kolam Mata Ie
Kondisi kolam Mata Ie yang kini mengalami kekeringan. [Foto Dok : MC Aceh Besar/rahasiaumum.com]

Banda Aceh. RU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menilai krisis air yang terjadi di kawasan Mata Ie disebabkan oleh laju kerusakan tutupan hutan yang membuat hilangnya daerah resapan air.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, Afifuddin, mengatakan alih fungsi hutan menjadi kawasan permukiman serta praktik perambahan telah melemahkan fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air hujan.

“Hutan berubah fungsi menjadi perumahan dan terjadi perambahan. Akibatnya, daerah resapan air hujan hilang. Saat musim kemarau, tidak ada lagi cadangan air. Jika tutupan hutan masih baik, cadangan air akan tersimpan dan dilepaskan secara alami saat kemarau,” katanya dikutip Jumat (06/02/2026).

Ia menjelaskan, tutupan hutan yang baik mampu menyerap hingga 70 persen air hujan.

Namun, ketika tutupan hutan rusak atau hilang, air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah dan justru mengalir di permukaan, sehingga tidak tersimpan sebagai cadangan air tanah.

“Kondisi itu yang menyebabkan krisis air saat musim kemarau,” ujarnya.

Afifuddin mengungkapkan, berdasarkan data portal acehdata.digdata.id, kehilangan tutupan hutan di Kabupaten Aceh Besar pada 2024 mencapai 319 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 70 hektare terjadi di kawasan Hutan Lindung, 145 hektare di Hutan Produksi, dan 11 hektare di kawasan Taman Hutan Raya.

Sementara pada 2023, kehilangan tutupan hutan tercatat seluas 312 hektare, dengan rincian 178 hektare di Hutan Produksi, 72 hektare di Hutan Lindung, dan 8 hektare di Taman Hutan Raya.

“Dari data itu, menjadi wajar jika kawasan Mata Ie mengalami krisis air saat musim kemarau. Tempat memproduksi airnya sudah rusak. Jika kondisi ini tidak segera ditanggulangi dan penebangan serta alih fungsi lahan terus terjadi tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, maka kekeringan akan terus berulang,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kerusakan kawasan karst yang dinilai memperparah krisis air.

Kawasan karst memiliki fungsi hidrologi penting sebagai akuifer alami yang menyimpan air hujan di dalam gua dan sungai bawah tanah.

“Karst adalah kantong air raksasa, berfungsi menjaga ketersediaan air bahkan saat musim kemarau. Jika kawasan karst rusak akibat eksploitasi berlebihan, maka krisis air hampir pasti terjadi,” pungkasnya.(TH05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *