WARGA, DI ANTARA SYUKUR DAN KELELAHAN

Ilustrasi. Kamis 5 Februari 2026. [Foto Dok : rahasiaumum.com/S04]

(Bagian III Habis)

Suara yang Sering Dianggap Keluhan, Padahal Evaluasi

WARGA Aceh Tamiang jarang berteriak. Mereka terbiasa bersyukur. Tetapi syukur yang terus-menerus tanpa perbaikan perlahan berubah menjadi kelelahan.

Di dalam huntara, warga menjalani hari dengan perasaan ganda: terima kasih dan cemas. Terima kasih karena tak lagi di tenda. Cemas karena fasilitas dasar belum tersedia.

Bagi mereka, hunian bukan sekadar tempat berteduh. Hunian adalah ruang memulihkan martabat setelah kehilangan segalanya akibat banjir.

Ketika warga menyampaikan kekurangan air dan sanitasi, suara itu sering dianggap keluhan. Padahal, itulah indikator paling jujur dari keberhasilan kebijakan.

Di tengah situasi ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mulai melakukan verifikasi lapangan bantuan perbaikan rumah secara teknis dan detail. Bupati Armia Pahmi menegaskan bahwa pemulihan harus tepat sasaran dan layak.

“Kami tidak menuntut mewah. Kami hanya ingin hidup normal kembali.”
[Penyintas banjir, Aceh Tamiang]

Jika negara ingin benar-benar hadir, maka suara warga tidak boleh diposisikan sebagai gangguan. Ia adalah kompas.

Hunian sementara di Aceh Tamiang sudah berdiri. Yang masih harus diperjuangkan adalah rasa tinggal dan rasa aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *