Banda Aceh. RU – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat kinerja ekspor daerah itu pada Februari 2026 mengalami peningkatan signifikan.
Nilai ekspor mencapai USD 64,64 juta atau naik 35,84 persen dibandingkan Januari 2026.
Plh Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengatakan nilai ekspor tersebut lebih tinggi dibandingkan impor yang tercatat sebesar USD 43,86 juta.
Dengan demikian, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada periode tersebut mengalami surplus sebesar USD 20,77 juta.
“Komoditas utama ekspor Aceh masih didominasi batubara dengan nilai USD 39,40 juta atau berkontribusi sebesar 60,96 persen terhadap total ekspor,” kata Tasdik, Rabu (01/04/2026).
Dari sisi negara tujuan, India menjadi mitra dagang terbesar dengan nilai ekspor mencapai USD 51,02 juta atau 78,93 persen, yang didominasi batubara.
Di susul Amerika Serikat sebesar USD 3,73 juta dengan komoditas utama kopi dan rempah-rempah, serta Thailand sebesar USD 2,44 juta yang juga didominasi batubara.
Tasdik menjelaskan, sebagian besar ekspor Aceh dilakukan melalui pelabuhan di dalam provinsi dengan nilai USD 52,85 juta atau 81,76 persen dari total ekspor.
Sementara sisanya sebesar USD 11,79 juta diekspor melalui pelabuhan di luar daerah, dengan nilai terbesar melalui Sumatera Utara sebesar USD 11,68 juta.
Sementara itu, impor Aceh selama Februari 2026 didominasi oleh komoditas gas propana dan butana dengan nilai USD 42,64 juta.
“Negara asal impor terbesar adalah Amerika Serikat sebesar USD 42,64 juta berupa gas butana/propana. Selain itu, impor dari Singapura tercatat sebesar USD 1,22 juta berupa bahan bakar hasil minyak,” ujarnya.(TH05)














