Bireuen. RU – Sejumlah keuchik di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, memprotes penyaluran bantuan, baik itu bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun bantuan daging meugang bagi korban banjir yang dinilai pilih kasih dan tidak tepat sasaran.
Mereka menilai pendataan yang dilakukan belum akurat sehingga memicu kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
Mahdi, Keuchik Gampong Samuti Makmur, menyebutkan bahwa bantuan DTH yang diberikan tidak merata dan menurutnya terkesan pilih kasih.
Untuk itu, dirinya meminta pemerintah daerah segera membenahi data penerima agar tidak menimbulkan polemik di tingkat desa.
“Data jangan amburadul dan jangan pilih kasih. Kalau desa lain ada yang dapat, kami juga harus ada. Jangan sampai masyarakat mempertanyakan kepada kami, kenapa desa lain dapat, sementara mereka tidak,” ujarnya dikutip Minggu (15/02/2026).
Hal senada disampaikan Rijalul Fadhli, Keuchik Gampong Alue Mangki. Ia menegaskan bahwa kriteria penerima bantuan harus disosialisasikan secara jelas, terutama terkait kategori rumah rusak ringan dan rusak berat.
“Pendataan itu sangat penting. Jangan sampai data awal sudah salah, sehingga bantuan yang diberikan tidak tepat sasaran,” tegasnya.
Sementara itu, Mudassir, Keuchik Gampong Samuti Rayeuk, mengaku pihaknya telah mengusulkan data korban terdampak melalui kecamatan dan melengkapi seluruh persyaratan.
Namun, realisasi bantuan di lapangan disebut tidak sesuai dengan data yang telah diajukan.
“Kami sudah usulkan data lengkap. Tapi yang terjadi, DTH tidak sesuai dengan yang diusulkan. Ini mohon diperbaiki,” katanya.
Ia juga berharap persoalan tersebut tidak dipengaruhi faktor beda pandangan politik. “Kalau ada persoalan pribadi dengan saya, jangan korbankan masyarakat yang menjadi korban bencana. Mereka tidak berdosa,” tambahnya.
Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Gandapura, Tgk Mauliadi, turut mendesak Pemerintah Kabupaten Bireuen agar tidak membiarkan polemik ini berlarut-larut.
Menurutnya, bantuan harus disalurkan secara adil dan merata sesuai tingkat kerusakan.
“Jangan sampai di satu desa dapat, di desa lain tidak, padahal sama-sama terdampak. Ini bisa memicu kesenjangan sosial dan imbasnya kembali ke keuchik,” ujarnya.
Ia juga meminta Bupati Bireuen untuk berkomunikasi langsung dengan para keuchik di Gandapura guna memastikan validitas data penerima bantuan, termasuk untuk program bantuan rumah rusak.
Menanggapi hal tersebut, Camat Gandapura, Azmi SAg menyatakan bahwa data yang dikirim ke tingkat kabupaten telah sesuai dengan data yang diserahkan oleh masing-masing keuchik.
Terkait bantuan yang disalurkan saat ini, dirinya tidak tau pasti bagaimana mekanisme di tingkat kabupaten.
“Jika ada korban yang layak menerima namun belum terdata, akan kami usulkan perbaikan. Semoga nantinya ada perubahan,” pungkas Azmi.(TH05)














