Banda Aceh. RU – PT Hutama Karya (Persero) mulai melakukan penanganan permanen pada delapan titik kerusakan ruas jalan nasional Takengon–Kutacane sebagai bagian dari percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh.
Pekerjaan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada 21 Januari 2026, bersamaan dengan dimulainya pembangunan delapan jembatan permanen dan penanganan 30 titik longsor di Aceh, Sumatra Barat, serta Sumatra Utara guna memulihkan konektivitas antarwilayah.
Di Aceh, penanganan difokuskan pada wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, termasuk titik Jembatan Mengkudu, longsoran Ketambe, Kafetinggir, serta sejumlah lokasi rawan lainnya yang berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga dan distribusi logistik.
Delapan jembatan yang mulai ditangani secara permanen pada Januari 2026 meliputi Jembatan Krueng Meureudu, Krueng Tingkeum, Teupin Mane, Ulee Langa, Krueng Beutong, Pelang, Mengkudu I, dan Pante Dona.
Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum juga menangani 30 titik longsoran di sejumlah ruas jalan nasional, di antaranya Bireuen–Bener Meriah, Bener Meriah–Takengon, Sp. Uning–Uwaq, Aceh Tengah–Gayo Lues–Aceh Tenggara, Genting Gerbang–Nagan Raya, serta Pameu–Genting Gerbang.
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, mengatakan perusahaan menangani titik Mengkudu dan Ketambe sebagai bentuk dukungan terhadap keselamatan akses masyarakat di Aceh Tenggara.
“Pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan fokus pada metode perkuatan struktur, khususnya di area berisiko tinggi akibat gerusan sungai,” ujar Mardiansyah, Senin (26/01/2026).
Tahap awal difokuskan pada pemasangan platform drilling untuk struktur utama, sekaligus penguatan tebing dan lereng di kawasan tikungan sungai yang rawan erosi.
Ruas Takengon–Kutacane dinilai strategis karena menjadi jalur utama penghubung Ketambe dan Kutacane serta aktivitas ekonomi lintas provinsi.
Selama pekerjaan berlangsung, pengaturan lalu lintas diterapkan, termasuk pengalihan melalui jembatan bailey di titik Mengkudu serta sistem buka-tutup di Ketambe pada waktu tertentu.
Seluruh penanganan ditargetkan rampung dalam delapan hingga sembilan bulan.(*)















