Opini  

Ramadhan 1447 H: Audit Tahunan Spiritual atau Sekadar Laporan Formalitas?

Tgk. Ilham Mirsal, MA. Jumat 27 Februari 2026. [Foto Dok : Pribadi/rahasiaumum.com]

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA

Setiap akhir tahun anggaran, lembaga-lembaga sibuk menghadapi audit. Dokumen disusun, angka diperiksa, dan seluruh aktivitas dipertanggungjawabkan. Ada yang berharap mendapat opini terbaik, ada pula yang cemas menunggu temuan.

Namun di atas seluruh audit manusia, ada satu audit yang jauh lebih teliti dan tak pernah bisa direkayasa: audit dari Allah SWT.

Ramadhan 1447 H bukan sekadar bulan ibadah rutin. Ia adalah momentum evaluasi besar hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Jika dunia mengenal audit keuangan, maka Ramadhan adalah audit keimanan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan tujuan akhir. Ia adalah proses. Output-nya adalah taqwa. Jika setelah Ramadhan kita tidak semakin bertaqwa, maka ada yang keliru dalam “laporan spiritual” kita.

Auditor yang Maha Teliti.

Dalam audit dunia, masih ada celah manipulasi. Laporan bisa diperindah. Angka bisa disiasati. Tetapi dalam audit Allah, tidak ada satu pun yang luput.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

Ayat ini seperti peringatan tegas bahwa tidak ada transaksi amal yang tersembunyi. Tidak ada “pengeluaran gelap” dosa yang tak tercatat.

Ramadhan hadir untuk membuka kembali buku besar kehidupan kita. Ia memanggil kita untuk merenung: bagaimana shalat kita selama ini? Bagaimana kejujuran kita dalam bekerja? Bagaimana lisan kita terhadap sesama?
Audit spiritual tidak hanya memeriksa ritual, tetapi juga integritas.

Puasa yang Hanya Formalitas.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Hadits ini terasa menyesakkan. Sebab ia membuka kemungkinan bahwa seseorang bisa saja “lulus administrasi” tetapi gagal secara substansi.

Kita mungkin hadir di masjid.Kita mungkin rajin tadarus.Kita mungkin aktif membagikan nasihat di media sosial.

Namun jika hati tetap keras, jika kejujuran masih goyah, jika amanah masih dikhianati, maka Ramadhan hanya menjadi laporan indah yang kosong makna.

Pintu Maghfirah yang Terbuka
Meski audit Allah sangat teliti, ia juga penuh rahmat. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).

Hadits ini adalah kabar harapan. Ramadhan bukan sekadar ruang pemeriksaan, tetapi juga ruang pengampunan.

Allah bahkan berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

Betapa lembut panggilan itu: “Wahai hamba-hamba-Ku…”

Ramadhan bukan datang untuk mempermalukan kita atas dosa masa lalu, tetapi untuk mengangkat kita dari keterpurukan itu.

Lailatul Qadar: Opini Tertinggi dari Langit.

Di antara seluruh malam Ramadhan, ada satu malam yang nilainya melebihi usia panjang manusia.

Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3:
“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.”

Seribu bulan, lebih dari delapan puluh tiga tahun.
Seolah Allah memberikan kesempatan akselerasi pahala yang luar biasa. Namun malam itu bukan hadiah bagi yang sekadar hadir secara fisik. Ia diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh.

Sepuluh malam terakhir adalah fase ujian paling menentukan. Di saat sebagian orang mulai sibuk dengan urusan dunia, para pencari ridha Allah justru semakin menundukkan diri dalam doa.

Kematian: Audit Final Tanpa Jadwal.

Ramadhan adalah audit tahunan. Tetapi ada satu audit yang tidak mengenal jadwal: kematian.
Allah berfirman dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh.’”

Ayat ini menggambarkan penyesalan yang tak berguna.
Tidak ada perpanjangan waktu.Tidak ada revisi laporan.Tidak ada kesempatan menyusun ulang amal. Yang tersisa hanyalah apa yang sudah dicatat.

Setelah Ramadhan: Bukti Kelulusan.

Audit yang berhasil selalu diikuti perubahan nyata.
Jika setelah Idul Fitri kita lebih jujur, lebih lembut, lebih amanah, lebih menjaga shalat, maka Ramadhan telah berhasil membersihkan kita.
Namun jika semuanya kembali seperti semula, maka mungkin kita hanya menyusun laporan formalitas.

Ramadhan bukan seremoni tahunan. Ia adalah undangan transformasi.
Ia mengetuk hati kita, bukan sekadar mengatur jadwal makan.

Ramadhan 1447 H ini mungkin menjadi kesempatan terakhir bagi sebagian dari kita. Tidak ada yang tahu apakah tahun depan kita masih diberi umur untuk diaudit kembali.

Maka sebelum takbir berkumandang, sebelum pakaian baru dikenakan, mari kita bertanya dalam diam:

Apakah Ramadhan kali ini benar-benar mengubah kita?Ataukah ia hanya menjadi laporan yang indah di permukaan namun kosong di dalam?

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak sekadar hadir dalam Ramadhan, tetapi benar-benar lulus dalam audit-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*Penulis, Dosen STAI Tapaktuan Aceh Selatan dan Wakil Ketua III, Bidang Humas dan Kemahasiswaan STAI Tapaktuan Aceh Selatan, Berdomisili di Gampong Ujung Batee, Pasie Raja Aceh Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *